KUANTAN SINGINGI, (4matanews) — Festival Pacu Jalur Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, akhirnya melahirkan kebanggaan bagi masyarakat Kecamatan Cerenti. Jalur Alam Cahayo Tuah Nagori dari Desa Sikakak berhasil keluar sebagai juara pertama pada ajang bergengsi yang digelar di Tepian Narosa, Teluk Kuantan. Prestasi ini menjadi catatan sejarah Juara Pertama jalur dari Kecamatan Cerenti sepanjang sejarah even Pacu Jalur di Tepian Narosa Teluk Kuantan.
Kemenangan tersebut bukan hanya menjadi catatan prestasi bagi jalur kebanggaan masyarakat Sikakak Cerenti, tetapi juga menjadi bukti bahwa anak-anak pacuan dari kampung sendiri mampu bersaing dan mengukir prestasi di tengah semakin kuatnya penggunaan atlet dayung dari luar daerah dalam dunia pacu jalur.
Keberhasilan Alam Cahayo Tuah Nagori dinilai tidak terlepas dari tiga faktor penting, yakni kondisi fisik jalur, kemampuan dan kesiapan anak pacu, serta kekompakan dan kebersamaan seluruh pengurus dalam mengelola jalur.
Salah seorang tokoh adat Kecamatan Cerenti, Datuk As’ari Datuk Bandaro Rajo, menyampaikan apresiasi atas perjuangan seluruh pihak yang telah mengantarkan Alam Cahayo Tuah Nagori menjadi juara pertama.
Menurutnya, kemenangan tersebut merupakan hasil kerja bersama yang melibatkan anak pacu, pelatih, kepala desa beserta perangkat, pengurus jalur, serta dukungan masyarakat Sikakak dan masyarakat Cerenti secara keseluruhan.
“Kami masyarakat Cerenti sangat mengapresiasi perjuangan semua pihak untuk Jalur Alam Cahayo, ini catatan sejarah Jalur dari Kecamatan Cerenti bisa merebut Juara Pertama di Tepian Narosa,” ujar Datuk As’ari Datuk Bandaro Rajo pada Senin (24/8/2026).
Selain itu, kata Datuk prestasi ini juga menjadi bukti kekompakan masyarakat Cerenti mulai dari anak pacuan, pelatih, kepala desa dan perangkat, masyarakat Sikakak, serta masyarakat Cerenti yang telah memberikan dukungan. Ini adalah jalur kebanggaan masyarakat Cerenti dan alhamdulillah mampu menjadi juara di event bergengsi Tepian Narosa,” ujar Datuk As’ari Datuk Bandaro Rajo, Senin (24/8/2026) pagi.
Ia menilai, salah satu hal yang patut diapresiasi dari pengurus Alam Cahayo Tuah Nagori adalah keberanian untuk tetap mempercayakan anak pacu kepada putra-putra Desa Sikakak.
Menurutnya, keputusan tersebut bukan karena pengurus tidak mampu mendatangkan atlet dari luar daerah.
Namun, pilihan itu lahir dari keyakinan bahwa pacu jalur bukan semata-mata perlombaan untuk mencari siapa yang paling cepat, melainkan juga bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai kebersamaan, doa, marwah kampung dan rasa memiliki.
“Pengurus berani memberikan kepercayaan kepada anak-anak Sikakak sendiri. Ini bukan berarti kita menolak perkembangan atau tidak mengakui kemampuan atlet dari luar. Justru ini menunjukkan bahwa anak negeri juga memiliki kemampuan dan dapat bersaing apabila diberikan kepercayaan serta dipersiapkan dengan baik,” katanya.
Datuk Bandaro Rajo menambahkan, kekuatan sebuah jalur tidak hanya ditentukan oleh tenaga anak pacu yang mengayuh dayung. Di balik sebuah jalur terdapat dukungan masyarakat, doa orang tua, semangat pengurus, pelatih, serta kebersamaan seluruh elemen kampung.
Setiap kali Alam Cahayo Tuah Nagori turun ke gelanggang, lanjutnya, jalur tersebut tidak hanya membawa nama para anak pacu. Mereka juga membawa nama Desa Sikakak dan harapan masyarakat yang selama ini memberikan dukungan.
“Yang dibawa anak-anak pacu bukan hanya dayung dan tenaga. Mereka membawa nama kampung, membawa marwah masyarakat Sikakak dan Cerenti. Karena itu, setiap pertandingan selalu menjadi perjuangan bersama,” ungkapnya.
Ia mengatakan, suasana di sepanjang Tepian Narosa menjadi gambaran kuat bagaimana pacu jalur mampu menyatukan masyarakat. Teriakan penonton, doa orang tua dan dukungan masyarakat menjadi energi tambahan bagi anak pacu ketika berada di atas jalur.
Menurut Datuk Bandaro Rajo, kemenangan Alam Cahayo Tuah Nagori pada KEN Pacu Jalur 2026 harus menjadi momentum untuk terus membina generasi muda di Kecamatan Cerenti.
“Prestasi ini jangan berhenti hanya pada kemenangan tahun ini. Jadikan ini sebagai motivasi untuk pembinaan anak-anak pacu ke depan. Kita ingin anak-anak Sikakak dan Cerenti terus diberikan ruang untuk berkembang, sehingga tradisi pacu jalur tetap memiliki ruh dan marwahnya,” ujarnya.
Ia juga berharap kekompakan yang telah terbangun antara pengurus jalur, pemerintah desa, pelatih dan masyarakat dapat terus dipertahankan.
Baginya, Alam Cahayo Tuah Nagori bukan sekadar sebuah jalur yang berlomba di atas sungai, tetapi simbol kebersamaan masyarakat Sikakak dalam menjaga warisan budaya Kuantan Singingi.
“Selamat kepada seluruh anak pacu, pelatih, pengurus, kepala desa beserta perangkat dan seluruh masyarakat Sikakak. Juara ini adalah juara kita bersama. Semoga Alam Cahayo Tuah Nagori terus menjadi kebanggaan masyarakat Cerenti dan Kuantan Singingi,” tutup Datuk As’ari Datuk Bandaro Rajo. (red)












